top of page

MetroVoice Information Network

Public·15 members
Adrian Lewis
Adrian Lewis

Terjemahan Kitab Al Majmu Pdf 24



Sebenarnya yang didebatkan para ulama salaf bukan masalah boleh atau tidaknya mengirim pahala bacaan Al-quran untuk mayit. Tapi lebih kepada apakah bacaan Al-quran yang dihadiahkan pahalanya untuk mayit itu sampai atau tidak pahalanya. Nah, para ulama salaf kita berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan perlu kita ketahui bahwa masalah ini sudah dibahas oleh ulama kita secara detail di dalam kitab-kitab turost mereka masing-masing. Bahkan para ulama kita juga telah menjelaskannya secara rapi beserta dalil-dalilnya.




terjemahan kitab al majmu pdf 24


Download Zip: https://www.google.com/url?q=https%3A%2F%2Ftweeat.com%2F2ucohM&sa=D&sntz=1&usg=AOvVaw081lfo7bbyvy3SHxWSMzPD



Jika kita mau membaca kitab-kitab turost yang ditulis oleh para ulama-ulama kita maka akan kita temukan pembahasan yang sangat menarik sekali mengenai hal ini. Mungkin penyakit kita selama ini belajar agama hanya mendengar orang bilang katanya katanya saja. Tanpa menyebutkan sumber aslinya dari kitab apa dan ulama siapa yang mengatakannya. Maka dari itu mari kita budayakan semangat untuk membaca dan mempelajari kitab-kitab turots para ulama kita. Dengan demikian berarti kita telah mengikuti ajaran para ulama salaf yang mana mereka ini adalah para ahli waris nabi.


Al-Imam Ibnu Katsir berpendapat bahwa pahala bacaan Al-quran itu tidak sampai kepada mayit. Hal ini beliau jelaskan di dalam kitab beliau yaitu kitab Tafsirul Quranil Adzim atau yang lebih dikenal dengan tafsir ibnu katsir. Ini kutipan perkataan beliau dalam kitab tafsir juz 7 halaman 465 :


Karena begini, justru dikitab yang lain disebutkan bahwa Al-Imam Asy-Syafiiy menganjurkan seseorang untuk membaca Al-quran disisi mayit. Hal ini disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab Riyadhus Sholihin halaman 295 :


Maka dari itu Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshori dan Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan bahwa maksud dari kalam nya Al-Imam Asy-Syafiiy bahwa bacaan Al-quran itu tidak sampai adalah jika tidak diniatkan atau tidak dibacakan dihadapan si mayit. Berikut ini penjelasan Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshori di dalam kitab Fathul Wahhab juz 2 halaman 23 :


Saat ini sudah tersedia kitab alala Pdf yang bisa kalian download di Internet, dan kalau kalian baca kitab ini, meskipun singkat, tapi isinya sebenarnya penting banget buat dipelajari bagi anak-anak kecil yang belajar mengaji.


Masih ingat dengan kitab-kitab ringan terbitan pustaka azzam awal 2000? Mau membaca kembali kitab-kitab tersebut?? Dapatkan segera kitab-kitab tersebut dalam bentuk Ebook di google ebook (play.google.com) dengan keyword "Pustaka Azzam" atau bisa langsung mengunjungi situs dibawah ... detail


Agus Tiyanto, pendiri sekaligus pembina Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat (KOPISODA), ini tidak sengaja menemukannya. Guru madrasah di Klaten ini punya kebiasaan berbelanja kitab kuno atau buku bekas di pasar buku di kota Solo, Yogyakarta, dan Semarang. Jadi masuk akal jika ia menemukan buku lawas dan penting, secara tidak terduga.


Pada Selasa (16/7/2019) Agus ke pasar buku Shoping di Yogyakarta. Dia sengaja mempir ke lapak milik temannya yang biasa berjualan buku lawas. Oleh si teman yang tidak mau ditulis namanya, Agus Tiyanto disodori sebuah kitab kuno yang sudah tampak lusuh. Warna kertasnya tidak lagi kuning atau kecoklatan, melainkan sudah abu-abu mendekati hitam. Namun, tulisannya masih jelas terbaca.


Kitab kuno tersebut beraksara Jawa, namun ada banyak sisipan kata beraksara Arab di dalamnya. Agus membolak-balik kitab tersebut. Dia mengaku kurang bisa membaca aksara Jawa, namun tertarik dengan buku tersebut. Dia yakin kitab itu berisi ajaran para ulama yang penting untuk menambah pengetahuan agama.


Selama dua tiga hari, Selasa sampai Kamis dini hari (18/7), para angota grup KOPISODA mendiskusikan isi kitab Jawa tersebut. KOPISODA memang berisi para pecinta ulama, kolektor kitab, penggemar naskah, dan pegiat ilmu.


Apabila itu karya orang lain, wajar, karena mbah Sholeh identik sebagai ulama yang mengarang kitab beraksara pegon, yakni huruf Arab tetapi berbahasa Jawa. Namun apabila buku itu karya Mbah Sholeh sendiri, berarti kitab ini menjadi penemuan yang luar biasa. Sebab bisa menimbulkan dugaan bahwa KH Sholeh Darat juga mahir menulis aksara Jawa. Tentu hal itu langsung menambah semangat baru untuk mencari kitab-kitab lain karya beliau yang beraksara Jawa.


Merasa ingin mendikusikan lebih lanjut temuan kitab tesebut, Agus Tiyanto mengunggah foto-foto kitab itu di akun fesbuknya. Dengan diberi keterangan hipotesisnya tersebut, seorang tokoh filologi dari Univeritas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Baso memberi tanggapan atas postingan di Facebook tersebut.


Ahmad Baso berkomentar, kitab tesebut belum bisa disimpulkan sebagai karya KH Sholeh Darat, karena di halaman cover tidak menyebutkan bahwa muallif (pengarangnya) adalah KH Soleh Darat. Penulis produktif yang banyak mengupas Islam Nusantara ini mengingatkan agar berhati-hati untuk menyatakan kitab itu karya Sholeh Darat.


Dalam status Facebook hari Rabu (17/7) Ahmad Baso sepertinya mengoreksi komentarnya atas kitab temuan Agus Tiyanto tersebut. Ia mengunggah sebuah foto sampul buku berjudul Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 1, diterbitkan oleh Museum Sonobudoyo Yogyakarta, yang disunting oleh Dr. T.E. Behrend.


Menurut Agus, dibutuhkan penelitian khusus mengenai pola kalimat, susunan kata, hingga gaya bahasa terhadap semua kitab karya Kyai Soleh Darat, agar bisa membandingkannya dengan kitab-kitab kuno lain yang sudah hilang atau sobek sampulnya. Banyak kitab-kitab yang tidak secara nyata menerangkan ditulis oleh KH Sholeh Darat. Dibutuhkan semacam penelitian dengan pendekatan ilmu sastra.


Penelitian itu menjadi perlu karena beberapa tetua Jawa maupun ulama sepuh pernah menyatakan bahwa KH Sholeh Darat mengarang banyak kitab. Ada yang bilang mencapai 40 judul. Adapun sekarang ini, KOPISODA baru menemukan 15 kitab, yang saya sejak tahun 2012. Saya mulanya mendapat 5 kitab, lalu 12 kitab, hingga sekarang 15 kitab. Saya yakin masih ada kitab-kitab lain yang nantinya ditemukan.


Memang ada beberapa kitab yang ditengarai karya Kyai Soleh Darat. Yang pernah disebutkan oleh seorang cucu Mbah Kyai Soleh Darat, (alm) Ali Cholil, adalah kitab Mujarrobat dan Manaqib Syeikh Abdul Qodir Al Jailani (keduanya pegon). Dua kitab itu tanpa ada nama pengarang. Informasi lain, Kyai Soleh dari Bonang Demak, meriwayatkan bahwa Mbah Sholeh Darat juga menulis kitab Dalail Khoirot.


dan setelah itu, berkata seorang hamba yang rugi yang butuh pada rahmat tuhannya yang maha kuasa, yaitu usman ibn hasan ibn ahmad syakir al khobi, semoga Allah memuliakan mereka dengan kelembutannya dan kemurahannay yang tinggi: saya telah menetap di kota besar di konstantinopel -semoga allah menjaganya dan seluruh kota dari penyakita dan kerusaan- ketiaka saya melihan teman-teman pelajar dan guru-guru yang mengampu, yang mereka di antara masyarakat seperti lentera di kegelapan malam, nasehat yang disukai di antara mereka dan di antara ulama yang muliah, yang mereka karena perpegang sumber ilmu adalah para pewaris nabi, tetapi tidak di urutkat berdasar runtutan quranul adzim, maka aku berharap untuk menulisnya dan membenarkan kesalahannya dengan pertolonga raja yang maha terpuji. dan kami telah menemukan sebagian pelajar dari teman teman kita mengatakan degna lisan mereka apa yang tidak ada di kitab kita, dan mereka salah, bahkan mereka kafir dalam nasehat mereka pada orang-orang yang tenggelam dalam tidur, dan membahagiakan khonnas yang menggoda di dada manusia. kami meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kita dan dari kejelekan amal kira. semoga Allah menjauhkan fitnah dalam hati kita.


Keempat, pengharaman riba itu telah tetap nashnya (berdasarkan kitab suci Alquran), sedang hikmat semua taklif (kewajiban agama) itu tidak selamanya harus diketahui oleh makhluk. Oleh karena itu, wajiblah diputuskan keharaman riba itu sekalipun kita tidak mengetahui, apa hikmat yang terkandung dalam pengharaman riba itu. Ini merupakan penjelasan bahwa nash itu membatalkan kias. Karena penghalalan Allah dan pengharaman-Nya tadi menjadi dalil atas batalnya kias mereka itu. (Hayatul Qulub).


Penjelasan secara lebih rinci tentang masalah ini dapat dilihat di dalam kitab-kitab fikih. Maka, sebaiknya Anda membaca asal nukilan ini, yang dinukil dari terjemahan ke bahasa Arab. Dan jangan lupa mendoakan penukilnya yang fakir ini dengan doa-doa yang baik, semoga Anda mendapatkan syafaat Nabi pilihan, setelah berpegang teguh pada sunah yang luhur. Dan janganlah Anda meragukan nikmat-nikmat Allah yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang berdosa, sehingga Anda tidak diharamkan dari kebahagiaan yang abadi. Dan renungkanlah apa yang telah saya paparkan dengan penuh perhatian dan pandangan yang cermat.


(. ) Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab, dari golongan Yahudi dan Nasrani, atau pun dari golongan yang telah dituruni kitab-kitab terdahulu, mengenai agama Islam. Sebagian kaum mengatakan bahwa, agama Islam itu adalah hak. Yang lain mengatakan bahwa, agama Islam itu khusus untuk bangsa Arab. Yang lain lagi tidak mengakuinya sama sekali, atau tidak mengakui tauhid, seperti orangorang Nasrani yang mengakui Trinitas (Tiga Oknum), dan orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa, Uzair adalah anak Allah. Konon, yang dimaksud Ahli Kitab itu ialah kaum Nabi Musa as. yang berselisih sepeninggal Beliau. Dan ada pula pendapat yang mengatakan, bahwa Ahli Kitab itu ialah kaum Nasrani yang berselisih dalam perkara Nabi Isa as.


Disebutkan di dalam kitab At Tatarkhaniyah: Memberi salam pada beberapa keadaan berikut ini hukumnya makruh tahrim, yaitu : ketika orang sedang membaca Alquran dengan suara keras. Tetapi orang yang sedang membaca Alquran itu boleh menjawab salam tersebut, karena dia bisa memperoleh dua keutamaan, dari membaca Alquran dan menjawab salam. Begitu pula bagi orang yang sedang mendengarkan pembacaan Alquran. Dan juga ketika sedang mendiskusikan ilmu, dalam hal ini, tidak boleh memberi salam kepada seorang pun yang sedang mendiskusikan ilmu. Jika hal itu dilakukan, maka orang yang memberi salam itu menjadi berdosa. Dan demikian pula, ketika sedang diserukan azan atau igamat. Adapun menjawab salam dalam keadaan-keadaan yang disebutkan tadi, menurut pendapat yang benar, juga tidak diperbolehkan, sekalipun dengan suara pelan.


About

Welcome to the group! You can connect with other members, ge...

Members

  • Larry Holeman
    Completed the Introduction to Framework for Successmiracle worker
  • Jamal Matveyev
    Jamal Matveyev
  • Jeremiah James
    Jeremiah James
  • Dylan Lee
    Dylan Lee
  • Philip Quigley
    Philip Quigley
bottom of page